Web Blog Pribadi indra Wijaya Kusuma

Information For Us—Kemarin adalah Pelajaran,Hari ini adalah Anugerah,Esok adalah Tantangan—

Tua atau Muda

Posted by ningrate pada Juli 3, 2008

> Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan
> menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami
> kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut
> menyentuh bahu saya.
>
> Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput,
> memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah. Ia
> menyapa, “Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh.
> Maukah kamu memelukku?”Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya,
> “Tentu saja boleh!”. Dia pun memberi saya pelukan yang sangat erat.
> “Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang masih begitu muda dan tak
> berdosa seperti ini?” tanya saya berolok-olok. Dengan bercanda dia
> menjawab, “Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah,
> mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian.”
>
> “Ah yang serius?” pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah
> memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya. “Saya selalu
> bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang
> mengambilnya!” katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju
> kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami
> segera akrab.Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang
> bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona
> mendengarkannya berbagi pengalaman dan kebijaksanaannya. Setelah
> setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia
> berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan
> perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya
> suasana.
>
> Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara
> makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang
> diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu
> dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari
> lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai. Dengan gugup dan sedikit malu
> dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan berkata, “Maafkan saya
> sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini membunuh
> saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya
> menyampaikan apa yang saya tahu.”
>
> “Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua. Kita menjadi tua
> karena berhenti bermain. Hanya ada rahasia untuk tetap awet muda,
> tetap menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila
> kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada banyak sekali orang yang
> berjalan di sekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya.”
> “Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu
> berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu
> tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah berubah
> menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun
> dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun,
> saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan. Setiap orang pasti
> menjadi tua.
> Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa
> dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan.” “Jangan pernah menyesal.
> Orang-orang tua seperti kami biasanya tidak menyesali apa yang telah
> diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat.
> Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan.”
>
> Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi “The Rose”. Dia menantang
> setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam
> kehidupan sehari-hari. Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah
> diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose
> meninggal dunia dengan damai. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri
> upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang
> mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang
> terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan. Ingatlah, menjadi tua
> adalah kemestian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.
>
> * * *
> Sediakan waktu untuk berpikir, itulah sumber kekuatan.
> Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.
> Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan kebijaksanaan.
> Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju kebahagiaan.
> Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.
> Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.
> Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu
> singkat untuk mementingkan diri sendiri.
> Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: